185 Peserta Bedah Ancaman Ideologi di Era Digital, ALPPIND Lampung Dorong Penguatan Ketahanan Keluarga

28 views

Bandar Lampung – Di tengah derasnya arus informasi digital yang melintasi batas ruang dan usia, kekhawatiran terhadap rapuhnya ketahanan keluarga semakin mengemuka. Persoalan ini menjadi perhatian serius dalam webinar nasional bertajuk “Urgensi Regulasi Daerah dalam Menyikapi Isu LGBTQ: Penguatan Ketahanan Keluarga dan Perlindungan Generasi di Era Digital” yang diselenggarakan secara daring oleh Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (ALPPIND) Lampung dan diikuti 185 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia. Webinar ini mengangkat satu pesan utama: ancaman terhadap generasi hari ini tidak hanya datang melalui penyalahgunaan teknologi, tetapi juga melalui infiltrasi nilai dan ideologi yang memengaruhi cara pandang anak terhadap identitas, keluarga, dan kehidupan sosial.

Ketua ALPPIND Lampung, Khairuna Arfalah, mengatakan bahwa berdasarkan berbagai pendampingan dan konsultasi yang dilakukan lembaganya, paparan konten digital yang berkaitan dengan isu identitas seksual mulai banyak dijumpai pada anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Menurutnya, konten tersebut tidak lagi hadir dalam bentuk opini semata, tetapi telah dikemas melalui film, media sosial, hiburan, hingga budaya populer yang secara perlahan membentuk cara berpikir generasi muda. Karena itu, ia menegaskan bahwa penguatan ketahanan keluarga harus menjadi agenda bersama melalui pengasuhan yang tepat, pendidikan karakter, serta penguatan fitrah dan spiritualitas anak sejak usia dini.

Senada dengan itu, Ketua Bidang Politik, Hukum, Literasi, Kebudayaan dan Media (Polhukbudmed) Aprilia Gita Lestari menjelaskan bahwa webinar ini lahir dari kegelisahan terhadap semakin kompleksnya persoalan yang dihadapi keluarga di era digital. Ia menegaskan bahwa forum tersebut bukan ditujukan untuk membangun stigma ataupun kebencian terhadap kelompok tertentu, melainkan menjadi ruang edukasi dan literasi publik agar masyarakat mampu memahami persoalan secara utuh serta menyusun langkah-langkah pencegahan yang tepat. Menurutnya, keluarga tetap menjadi benteng pertama dalam membangun karakter anak sehingga kolaborasi antara organisasi masyarakat, orang tua, sekolah, tokoh agama, pemerintah, dan media menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar.

Sebagai narasumber utama, Syukron Muchtar, Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung, menekankan bahwa perlindungan generasi membutuhkan dukungan regulasi yang memberikan kepastian hukum bagi pemerintah daerah dalam menjalankan fungsi edukasi, pembinaan, dan perlindungan masyarakat. Namun, ia mengingatkan bahwa regulasi tidak akan efektif apabila tidak diiringi oleh gerakan masyarakat yang terorganisasi. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini justru terletak pada lemahnya koordinasi antarberbagai elemen yang memiliki kepedulian terhadap penguatan keluarga. Oleh sebab itu, sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, akademisi, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, tokoh agama, dan keluarga harus dibangun secara sistematis agar upaya perlindungan generasi tidak berjalan sendiri-sendiri.

Sementara itu, Amar Ar Risalah, influencer sekaligus pegiat literasi keluarga, menilai bahwa perang gagasan di era digital tidak dapat dihadapi dengan respons yang sporadis. Ia mengajak masyarakat membangun gerakan edukasi yang lebih terstruktur melalui penguatan jejaring komunitas, optimalisasi media sosial, budaya literasi, serta pembagian peran sesuai kompetensi masing-masing. Menurutnya, psikolog, akademisi, tenaga kesehatan, pendidik, tokoh agama, kreator konten, hingga organisasi masyarakat harus hadir di ruang publik dengan narasi yang berbasis data, edukatif, dan mudah dipahami sehingga masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh dalam menghadapi berbagai tantangan sosial.

Webinar yang berlangsung interaktif tersebut menegaskan bahwa menjaga generasi tidak cukup dilakukan melalui pendekatan regulasi semata. Perlindungan anak harus dimulai dari keluarga yang kuat, diperkuat oleh pendidikan yang berkarakter, didukung kebijakan yang berpihak pada perlindungan keluarga, serta dikawal melalui kolaborasi lintas sektor. ALPPIND Lampung berharap forum ini menjadi awal dari gerakan edukasi yang lebih luas sehingga isu ketahanan keluarga tidak berhenti sebagai diskursus, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama dalam menjaga masa depan generasi bangsa.

banner 468x60)
Author: 
    author

    Related Post