
Suasana Lebaran Idul Fitri 1447 H/2026 di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global ditandai dengan perpaduan antara ketahanan tradisi dan kehati-hatian dalam pengeluaran. Meskipun dihadapkan pada tekanan ekonomi, semangat untuk tetap merayakan Idul Fitri bersama keluarga tetap kuat.
Meskipun ada kekhawatiran global dan ketidakpastian, pusat perbelanjaan dan arus mudik tetap ramai. Ini menunjukkan bahwa masyarakat berusaha menjaga kemeriahan suasana Lebaran meskipun harus menyesuaikan anggaran, Tradisi mudik tetap menjadi prioritas utama sebagai ajang silaturahmi, simbol kebersamaan, dan penguat jiwa kebangsaan, meskipun biaya perjalanan meningkat.Banyak yang menyadari bahwa momen kebersamaan dengan keluarga, berbincang, dan menikmati hidangan sederhana lebih berharga daripada kemewahan.
“Di tengah ketegangan geopolitik (seperti konflik Iran-Israel), masyarakat tetap berusaha menjaga “ketenangan di tengah gelombang” dan menikmati Lebaran dengan khidmat, Keramaian di mal dan kemacetan di setiap ruas jalan bisa jadi bukan tanda kesejahteraan, melainkan sebuah respons atas kecemasan.Ketika masa depan terasa tidak pasti, manusia cenderung mencari kepastian dalam hal-hal yang bisa dikendalikan. Membeli barang, menyiapkan Lebaran, dan merayakan momen menjadi cara untuk memastikan bahwa “hari ini masih bisa dirayakan
Kemacetan yang mengular, pusat perbelanjaan yang sesak, dan kantong belanja yang penuh pada akhirnya bukan sekadar fenomena ekonomi melainkan sebagai cermin kehidupan modern.Kita tidak hanya membeli barang, namun membeli rasa tenang, meskipun hanya sementara. Dan kita membeli pengakuan, meskipun tidak selalu kita sadari.
Saya terdiam, karena muncul pertanyaan yang menjadi lebih dalam: apakah rasa cukup itu benar-benar datang dari apa yang kita beli? Antara Kebutuhan dan Keinginan
Paradoks ini membawa kita pada satu pertanyaan yang sederhana, tetapi tidak mudah dijawab: apakah yang kita kejar benar-benar kebutuhan, atau hanya sebuah cara agar terlihat tidak kekurangan?
Lebaran seharusnya jadi momen bahagia. Tapi kenyataannya, tidak semua bisa merayakan dengan tenang.
Di saat sebagian orang pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga, ada pekerja yang justru menghadapi kenyataan pahit: pekerjaan hilang, kontrak tidak diperpanjang, atau THR tak kunjung dibayar.
Bagi mereka, Lebaran bukan hanya soal hari raya, tapi juga soal bertahan di tengah ketidakpastian. Memikirkan kebutuhan keluarga, biaya hidup, dan masa depan yang tiba-tiba berubah.
Inilah realitas yang sering tidak terlihat.
Karena itu, kita perlu diingatkan: di balik suasana Lebaran yang hangat, masih banyak saudara kita yang sedang berjuang dalam diam.Lebaran seharusnya membawa kebahagiaan untuk semua, bukan hanya sebagian.Karena keadilan sosial tidak boleh ikut libur saat hari raya.
Ketergantungan pada dinamika global tanpa diimbangi penguatan ekonomi domestik adalah kelemahan serius. Ketika harga minyak dunia naik, kita ikut goyah. Ketika distribusi global terganggu, kita ikut panik. Ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional belum cukup kokoh. Lebaran memang mampu mendongkrak konsumsi. Perputaran uang meningkat, sektor UMKM bergerak, dan ekonomi daerah menggeliat. Namun, kita juga harus jujur bahwa ini hanya bersifat sementara. Setelah Lebaran usai, realitas Kembali daya beli melemah, harga tetap tinggi, dan tekanan ekonomi Kembali di rasakan masyrakat.
Karena itu, momentum Lebaran seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan, tetapi juga sebagai refleksi. Bahwa kita membutuhkan kebijakan ekonomi yang lebih berani, lebih terstruktur, dan tidak sekadar reaktif. Pemerintah harus mulai membangun ketahanan pangan yang kuat, sistem distribusi yang efisien, serta kemandirian energi. Tanpa itu, setiap gejolak global akan terus menjadi ancaman yang berulang. Lebaran tahun ini tidak lagi sekadar soal tradisi dan kebahagiaan. Ia datang di tengah situasi global yang memanas—perang terbuka antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat—yang dampaknya langsung merembet ke dapur rakyat Indonesia. Masalahnya, di saat dunia sedang bergejolak, kita justru melihat respons pemerintah yang terkesan normatif, hati-hati berlebihan, bahkan cenderung lamban membaca dampak nyata di dalam negeri.
Lebaran: Euforia di Atas Kerapuhan ekonomi, Lebaran memang tetap akan menghadirkan perputaran uang. Ekonomi akan tampak bergerak. Tapi ini hanyalah ilusi jangka pendek. Setelah Lebaran usai, yang tersisa adalah realitas: tekanan ekonomi belum hilang ketidakpastian global masih berlanjut Jika perang ini berkepanjangan, maka kita harus siap menghadapi tekanan yang lebih besar—bukan hanya ekonomi, tapi juga stabilitas sosial.
Saatnya Berhenti Sekadar Bertahan Perang Iran–Israel–AS adalah ujian nyata. Bukan hanya bagi dunia, tapi juga bagi keberanian negara dalam mengambil sikap. Indonesia tidak cukup hanya: menjaga stabilitas mengeluarkan pernyataan normatif atau menunggu situasi mereda Yang dibutuhkan adalah arah kebijakan yang tegas, berani, dan berpihak pada kepentingan nasional jangka panjang. Jika tidak, maka setiap konflik global akan selalu berujung sama: rakyat kembali jadi pihak yang paling menderita.
solusi yang di berikan oleh Presiden Prabowo terkait ekonomi menurut saya adalah solusi jangka panjang, sedangkan bagi rakyat yang hidup dari hari ke hari dan dari bulan ke bulan, memiliki daya tahan ekonomi jangka pendek. sekuat apa perut rakyat menunggu keberhasilan kebijakan presiden prabowo terkait ekonomi. Rakyat hanya bisa menunggu, protes dalam senyap didalam hati yang penuh kekhawatiran di masa-masa yang penuh dengan ketidak pastian.
Saya Raju Rakyat dari Lampung Mengucapkan Selamat hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Batin.





