Satelit Lampung-1 Diluncurkan, Perluas Kerja Sama Antariksa 

23 views

Gubernur Lampung dan rombongan saat peluncuran Satelit Lampung One di Tiongkok. Ye Pingfan Li Aoqiu

SHANDONG-Perusahaan antariksa komersial China, STAR.VISION, berhasil meluncurkan satelit Oriental Smart Eye (OSE) Hyperspectral-01 dan Hyperspectral-02 ke orbit yang telah ditentukan pada Rabu (5/8) pagi menggunakan roket pengangkut Jielong-3 Y12 dari perairan lepas pantai Kota Haiyang, Provinsi Shandong, China timur, sekaligus merampungkan misi peluncuran tersebut.

Satelit OSE Hyperspectral-01 dikembangkan bersama oleh Starvision, Universitas Wuhan, dan sejumlah institusi terkait, termasuk pemerintah Provinsi Lampung, Indonesia. Satelit yang diberi nama “Lampung-1” oleh pihak Indonesia ini mengemban misi kerja sama Indonesia-China di bidang aplikasi penginderaan jauh, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan pengembangan kapasitas antariksa.

Menurut Starvision, Lampung-1 memiliki bobot 300 kg dan membawa 22 saluran spektral yang telah dikalibrasi secara tepat, mencakup rentang panjang gelombang 400-1.650 nanometer. Satelit ini memiliki resolusi spasial hingga 5 meter dan lebar cakupan pencitraan (imaging swath) satelit tunggal sebesar 300 km. Jaringan kedua satelit ini mampu mencapai siklus kunjungan ulang (revisit cycle) global 5 hari.

Salah satu keunggulan satelit ini adalah kapasitas komputasi internal sebesar 400 TOPS yang memungkinkan dilakukannya inferensi kecerdasan buatan di luar angkasa. Satelit ini mampu memproses dan menginterpretasikan citra saat berada di orbit, termasuk mengidentifikasi tanaman dan mengevaluasi bencana, serta hanya mengirimkan hasil inferensi tersebut kembali ke Bumi, sehingga meningkatkan efisiensi transmisi informasi secara signifikan.

Bagi Indonesia, satelit AI hiperspektral memiliki potensi penerapan yang besar. Sebagai negara kepulauan besar dengan wilayah perairan yang luas dan sumber daya ekologis daratan yang kaya, Indonesia memiliki kebutuhan yang luas dalam hal perlindungan ekologis dan lingkungan, pengembangan pertanian, pengelolaan sumber daya mineral, serta pemantauan maritim. Dengan menganalisis karakteristik respons spektral dari berbagai jenis material, satelit hiperspektral dapat mengidentifikasi komposisi dan perubahan pada permukaan lahan, badan air, dan atmosfer, sehingga memberikan dukungan teknologi bagi produksi pertanian, perlindungan ekologis, survei sumber daya, dan tata kelola lingkungan di Indonesia.

“Desain spektral Lampung-1 sepenuhnya memperhitungkan karakteristik geografis dan struktur industri Provinsi Lampung, sehingga sangat cocok untuk pemantauan pertanian, pengelolaan sumber daya maritim, dan penanganan bencana alam,” ujar seorang perwakilan Starvision.

Perwakilan tersebut mengatakan bahwa proyek Lampung-1 mengutamakan pengembangan bersama skenario aplikasi, sistem darat, serta tim talenta dengan pemerintah daerah dan lembaga penelitian.

“Selama proses penelitian dan pengembangan, para ahli Indonesia memberikan kontribusi penting, yang menandai eksplorasi baru dalam memperkuat penelitian gabungan dan pengembangan bersama antara sektor antariksa China dan negara-negara Global South,” lanjut perwakilan tersebut.

China dan Indonesia telah lama menjalin kerja sama di sektor antariksa. Mulai dari layanan peluncuran satelit komunikasi dan kerja sama fasilitas darat hingga aplikasi data penginderaan jauh serta layanan antariksa yang lebih luas, kedua belah pihak terus memperluas cakupan kerja sama tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya permintaan Indonesia akan pemantauan lingkungan ekologis, pertanian, dan sumber daya mineral, kerja sama antariksa bilateral berkembang dari satelit komunikasi konvensional ke satelit penginderaan jauh, layanan informasi antariksa, serta aplikasi kecerdasan buatan.

Kerja sama Starvision dengan berbagai institusi di Indonesia merupakan salah satu contoh semakin eratnya kemitraan antariksa antara Indonesia dan China.

Pada Mei 2025, pemerintah Provinsi Lampung menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) mengenai kerja sama antariksa dengan Starvision, Oriental Maritime Space Port, dan mitra-mitra lain di China untuk memajukan pembangunan Lampung-1, satelit AI hiperspektral pertama milik Indonesia.

Selanjutnya, STAR.VISION bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia untuk peningkatan penerapan data penginderaan jauh, membuka layanan data satelit bagi pengguna di Indonesia melalui program OSE Early Bird, serta menyerahkan platform aplikasi penginderaan jauh satelit TerraVista kepada BRIN, yang turut memperkuat kemampuan penerapan informasi antariksa lokal.

Lampung-1 juga menjadi tonggak penting dalam pengembangan Konstelasi Satelit AI China-ASEAN. Sebagai satelit pertama dalam konstelasi tersebut, keberhasilannya memasuki orbit menunjukkan kemajuan dalam kerja sama antariksa China-ASEAN, dari yang semula berupa kolaborasi berbasis proyek, kini menjadi pengerahan berbasis konstelasi dan pemanfaatan di tingkat regional.

Diluncurkan dalam ajang China-ASEAN Expo 2025, Konstelasi Satelit AI China-ASEAN mengusung prinsip “satu negara satu satelit, pembangunan bersama dan manfaat bersama”. Inisiatif ini bertujuan membangun infrastruktur cerdas spasio-temporal lintas perbatasan yang dapat digunakan bersama, guna memenuhi kebutuhan negara-negara ASEAN di bidang produksi pertanian, perlindungan ekologis dan lingkungan, tata kelola maritim, peringatan bencana, serta layanan informasi antariksa.

Seiring pengembangan satelit-satelit lanjutan dan sistem aplikasi di darat, konstelasi tersebut diharapkan dapat memperdalam kerja sama antara China dan ASEAN dalam pengembangan satelit, layanan data, penerapan AI, serta koordinasi industri, sehingga memberikan dorongan teknologi baru bagi pembangunan ekonomi digital regional

banner 468x60)
Author: 
    author

    Related Post