
Bandar Lampung – Di tengah derasnya arus informasi digital yang melampaui batas ruang dan usia, ancaman terhadap ketahanan keluarga dinilai tidak lagi bersifat laten.
Paparan konten digital yang membentuk cara pandang anak terhadap identitas, relasi sosial, hingga nilai-nilai kehidupan menjadi tantangan baru yang membutuhkan respons bersama. Berangkat dari kegelisahan tersebut, Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (ALPPIND) Lampung menyelenggarakan webinar nasional bertajuk “Urgensi Regulasi Daerah dalam Menyikapi Isu LGBT: Penguatan Ketahanan Keluarga dan Perlindungan Generasi di Era Digital, yang diikuti 185 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia. Forum ini menjadi ruang bertemunya perspektif kebijakan, pendidikan, pengasuhan, dan ketahanan keluarga dalam merespons perubahan sosial di era digital.
Ketua ALPPIND Lampung, Khairuna Arfalah, mengungkapkan bahwa berdasarkan berbagai pendampingan dan konsultasi yang dilakukan lembaganya, paparan konten mengenai isu identitas seksual mulai banyak dijumpai pada anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.
Menurutnya, konten tersebut kini tidak lagi hadir dalam bentuk narasi atau opini semata, tetapi dikemas melalui film, media sosial, hiburan, hingga budaya populer yang perlahan membentuk persepsi anak terhadap dirinya. Karena itu, ia menegaskan bahwa penguatan keluarga harus menjadi prioritas melalui pola pengasuhan yang tepat, pendidikan karakter, serta penguatan fitrah dan spiritualitas anak sejak usia dini. Ia juga berharap webinar ini menjadi awal lahirnya forum-forum tematik yang secara konsisten membahas isu pengasuhan, perlindungan anak, dan ketahanan keluarga.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Bidang Politik, Hukum, Literasi, Kebudayaan dan Media (Polhukbudmed) Aprilia Gita Lestari, menjelaskan bahwa penyelenggaraan webinar berangkat dari meningkatnya berbagai persoalan yang ditemukan dalam pendampingan keluarga. Menurutnya, tantangan yang dihadapi saat ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan moral ataupun hukum semata, tetapi membutuhkan peningkatan literasi digital, penguatan kapasitas orang tua, serta kolaborasi lintas sektor. Ia menegaskan bahwa webinar ini bukan ruang untuk membangun stigma terhadap kelompok tertentu, melainkan forum edukasi yang menghadirkan perspektif regulasi, agama, pendidikan, dan psikologi agar masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh terhadap dinamika sosial yang berkembang.
Dalam sesi utama, Syukron Muchtar, Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung, menekankan pentingnya kehadiran regulasi daerah sebagai instrumen yang memberikan kepastian hukum bagi pemerintah dalam menjalankan fungsi edukasi, pembinaan, pencegahan, dan perlindungan masyarakat. Namun, menurutnya, regulasi hanya akan efektif apabila dibarengi dengan gerakan masyarakat yang terorganisasi. Ia menilai salah satu tantangan terbesar saat ini adalah belum kuatnya koordinasi antar organisasi, akademisi, tenaga kesehatan, tokoh agama, media, dan komunitas yang memiliki kepedulian terhadap penguatan keluarga. Karena itu, ia mendorong lahirnya kolaborasi yang lebih sistematis agar edukasi kepada masyarakat tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan dengan pendekatan yang berbasis data, ilmu pengetahuan, dan kebijakan.
Perspektif tersebut diperkuat oleh Amar Ar Risalah, influencer dan pegiat literasi keluarga, yang menilai bahwa tantangan era digital merupakan perang narasi yang tidak dapat dihadapi secara spontan maupun sektoral. Menurutnya, masyarakat perlu membangun gerakan edukasi yang lebih terstruktur melalui penguatan jejaring komunitas, optimalisasi media sosial, budaya literasi, serta pembagian peran berdasarkan kompetensi. Psikolog, tenaga kesehatan, akademisi, pendidik, tokoh agama, kreator konten, hingga organisasi masyarakat perlu menghadirkan narasi yang kredibel, berbasis ilmu pengetahuan, dan mudah dipahami agar mampu memperkuat ketahanan keluarga sekaligus meningkatkan kesadaran publik.
Webinar yang berlangsung secara interaktif ini menegaskan bahwa menjaga generasi tidak cukup hanya melalui regulasi ataupun pendekatan pendidikan semata. Ketahanan keluarga harus dibangun melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, media, tokoh agama, dan keluarga sebagai lingkungan pertama pembentukan karakter anak. Dari forum ini mengemuka satu pesan penting: di tengah derasnya arus informasi digital, investasi terbesar bangsa bukan hanya pembangunan fisik, melainkan kemampuan keluarga menjaga nilai, karakter, dan arah tumbuh kembang generasi masa depan.





